MERAWAT INTELEKTUALITAS

Selasa, 13 September 2016

CARA MENDIRIKAN RUMAH BACA MASYARAKAT

Anak-anak Rumah BacaBintang Al-Ikhlas Banten sedang menggambar



Oleh Muhammad Rois Rinaldi


Pada umumnya, kita semua pasti sepaham menyoal betapa pentingnya budaya membaca bagi manusia (dalam hal ini Indonesia). Sayangnya, ketersediaan buku bacaan di wilayah Indonesia tidak merata. Mungkin sebagian ada yang berpikir, di sekolah-sekolah pasti menyediakan buku bacaan yang memadai. Kalau yang dilihat hanya LKS (Lembar Kerja Siswa) dan buku paket sesuai kurikulum, sekurang-kurangnya memang pasti ada. Tetapi buku-buku wajib dan diwajib-wajibkan itu tidaklah dapat dikatakan memadai. Buku bacaan harus memberi wawasan lebih, tidak sekadar menggugurkan kewajiban kurikulum pendidikan.  Tidak cukup yang bernama LKS atau paket-paket itu.

Buku yang dimaksud adalah buku penunjang yang lainnya. Sains yang beragam pilihan, filsafat yang bermacam pandangan, sastra yang terus diperbaharui,  agama yang lebih lengkap, dan buku-buku genre lainnya yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Misalnya buku dongeng untuk anak-anak usia TK dan SD, buku-buku mengenai dunia remaja bagi para remaja, hingga pada buku-buku tekni bercocok tanam bagi para petani. Apakah buku-buku yang demikian tidak tersedia di sekolah-sekolah? Faktanya demikian. Terutama di wilayah-wilayah pedalaman, buku seperti makhluk asing yang sulit ditemukan. Inilah titik penting pendirian rumah baca.

Penyediaan buku saja juga tidak dapat dikatakan tindakan yang sudah layak diapresiasi. Apalah gunanya benda tanpa manusia, apakah manusia dapat dikatakan manusia tanpa jiwa? Begitupun dengan buku. Setelah buku disediakan, undanglah siapa saja untuk turut mencintai membaca sehingga membaca secara alamiah menjadi budaya di lingkungan tempat suatu rumah baca didirikan. Perlu diingat, mengajak “manusia” untuk melakukan atau membiasakan kegiatan-kegiatan positif kerap sekali mengalami kendala. Misalnya orang-orang malas, tidak merasa butuh membaca karena membaca dianggap sebagai kegiatan yang sia-sia, menganggap tidak penting dan sebagainya dan sebagainya. Jalan satu-satunya untuk menghadapi kendala-kendala tersebut  adalah dengan konsistensi rumah baca. Terus saja bergerak dan melakukan penyuluhan mengenai pentingnya membaca. Mengajak satu orang kemudian dua orang, kemudian tiga orang dan terus bertambah.  

Tim marawis Rumah Baca Bintang Al-Ikhlas Banten

Dalam kaitannya, membaca adalah proses berpikir, maka mengundang manusia untuk membaca saja juga tidak bisa dikatakan sebagai pekerjaan yang selesai. Harus ada penanganan-penanganan yang visioner dan progresif, terutama dalam usaha mengembangkan nalar dan pikiran manusia. Caranya beragam, tergantung hasil penelaahan lingkungan sosial masyarakatnya. Misalnya melakukan diskusi-diskusi secara teratur dan tersistem. Hal ini dilakukan agar para pembaca tidak menjadi kerbau yang dicocok hidungnya. Manusia harus berpikir dan mengkritisi apa yang dibaca, bukan menerima begitu saja apa yang ia baca. Karena celaka besar bagi siapa saja yang membaca tanpa berpikir.  Diskusi yang dilakukan tidak boleh semena-mena, harus benar-benar tepat sasaran. Dengan kata lain, sesuai dengan kemampuan pembaca dan kebutuhannya. Tidaklah tepat jika membuat kajian mengenai tasawuf bagi anak-anak sekolah dasar.

Setelah persoalan-persoalan yang saya paparkan di atas sudah dapat dipahami dan siap direalisasikan dengan baik, maka pertanyaan mengenai bagaimana mendirikan rumah baca atau yang sejenisnya dapat dijawab. Ada 4 (empat) hal penting yang perlu disiapkan.

Pertama, bentuk tim yang kuat untuk mengurus rumah baca. Tidaklah memungkinkan jika rumah baca diurus dan dijalankan oleh satu orang saja. Butuh tim yang siap menjadi konseptor dan motor rumah baca. tidak perlu banyak, untuk awalan cukuplah 3 atau 4 orang.  Satu tim ini harus melakukan komunikasi yang intensif sebelum mendirikan rumah baca. Komunikasi ini penting untuk menciptakan satu kesepakatan dan kesepahaman mengenai landasan, bentuk, arah, tujuan, sasaran, dan pengembangan rumah baca. tanpa melakukan komunikasi yang baik dan terarah, tim yang dibentuk bukannya menyukseskan rumah baca, malah sebaliknya.

Kedua, niatkan pendirian rumah baca pada jalur yang semestinya. Niat ini penting, karena niat akan menjadi tolok ukur perjalanan rumah baca di kemudian hari. Niat yang semestinya itu seperti apa? Tentu mendirikan rumah baca adalah untuk kemaslahatan khalayak, masyarakat sekitar. Jangan sampai Diniatkan untuk kepentingan politik taktis atau keinginan untuk populer. Jika dilandasai oleh keinginan politis, rumah baca kelak cuma jadi kandang kambing yang penuh dengan embikan. Jika diniatkan ingin populer, rumah baca tidak lebih dari tempat sekumpulan manusia nyinyir yang banyak omong dan demen media massa. Kalau diniatkan untuk iseng-iseng belaka, rumah baca akan jadi tempat orang-orang iseng yang tidak memiliki orientasi yang jelas.

Ketiga, kumpulkan buku sendiri. Kebanyakan, orang belum punya buku sama sekali atau kurang dari 100 buku sudah gembar-gembor ingin buka rumah baca dan meminta buku dari sana sini. Meski bukan hal yang salah sama sekali, alangkah lebih baik jika pengumpulan buku dimulai dari diri sendiri. Itu juga sebagai bukti keseriusan dan kekuatan tekad. Minimal kita punya 100 judul buku (bukan 100 buku dengan satu judul), sebelum memulai dan membuka rumah baca. Mengapa 100 judul buku? Paling tidak sebagai awalan, ada 100 judul buku yang dapat dibaca. Bagaimana kalau kurang dari itu? Ya, tidak apa-apa, tapi baiknya lebih dari itu. Sekali lagi, ini untuk mengukur seberapa kuat tekad yang dimiliki. Karena dengan tekad yang sekadarnya, segala sesuatu tidak akan dapat berjalan lama, cepat bosan dan ditinggalkan.

Anak-anak Rumah Baca Bintang Al-Ikhlas Banten sedang asyik membaca

Keempat,  sarana dan prasarana yang, minimal sudah cukup siap menunjang berjalannya rumah baca. Yang paling pertama adalah tempat berupa bangunan (ruangan). Tidak perlu muluk-muluk, tempat yang akan dijadikan rumah baca dapat di teras, di kamar pribadi yang diubah jadi perpustakaan, atau di ruang-ruang lain yang masih mungkin bisa digunakan. Bagi yang masih numpang di rumah orang tua, bicaralah lebih dahulu dengan orang tua. Berikan pengertian sejelas-jelasnya, agar tidak ada kesalahpahaman di kemudian hari. Kegiatan rumah baca itu ramai dan kadang berisik, kalau tidak dijelaskan dari awal, ada kemungkinan orang tua akan protes. Bagi yang sudah punya tempat sendiri, tentu ini tidak jadi soal lagi. Selanjutnya pikirkanlah bagaimana pengadaan rak bukunya. Tidak perlu rak buku yang bagus dan keluaran toko. Buatlah dari kayu-kayu bekas atau benda-benda lain yang dapat disulap menjadi rak, misalkan kardus dan bambu. Sarana pendukung lainnya semisal kipas angin, meja belajar, karpet, dan atk dilengkapi sambil berjalan saja.

Sedikit catatan, mungkin ada yang bertanya, bagaimana perhatian pemerintah pada kegiatan semacam ini? Pemerintah memang menyediakan alokasi anggaran untuk kegiatan masyarakat termasuk rumah baca, tapi saya tidak bisa memberi pandangan banyak, yang pasti kalau ada dana pemerintah yang tidak menggadaikan kemurnian niat, ambil saja. Toh, anggaran dana pemerintah dari rakyat dan hak rakyat, jadi tidaklah haram. Hanya saja, jangan terlampu mengandalkan anggaran dari pemerintah. Karena jika terlalu berharap pada anggaran pemerintah, akan menjadikan pengurus rumah baca tidak mandiri dan cenderung ketergantungan pada persoalan financial. Berjalan saja terus dan terus. Bagaimana bisa bergerak tanpa dukungan dana? Jangan menghina Tuhan dengan kekhawatiran itu, Allah maha kaya.

Kira-kira demikian catatan pendek mengenai pendirian rumah baca. Semoga sedikitnya dapat memberi jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang ada.

0 komentar:

Posting Komentar