MERAWAT INTELEKTUALITAS

Selasa, 01 November 2016

PERDEBATAN PANJANG ITU




Tiba-tiba saya teringat waktu terjadi perdebatan panjang antara saya dan Omah Irna Kholiyannawati​, salah satu pendiri BAI. Ia meminta saya membuat grup dan fanspage Rumah Baca Bintang Al-Ikhlas Banten agar masyarakat luas mengetahui keberadaan anak-anak dan program-program yang dijalankan BAI Banten.

Meski dalam perdebatan yang cukup panas, kami tetap menggunakan panggilan khusus, saya memanggil Mba' Irna dengan panggilan Omah dan ia memanggil saya dengan panggilan Uwa'.

Beberapa minggu Omah meminta, dalam hitungan waktu yang sama, saya mengabaikan. Alasan saya, saat itu, tidak perlulah BAI Banten diketahui banyak orang. Lebih baik berpikir bagaimana memaksimalkan program dan memaksimalkan potensi anak-anak. Selain itu, saya khawatir jika mempublikasikan kegiatan BAI Banten akan terjadi pergeseran niat. Karena hati manusia mudah terbolak-balik. Yang mulanya diniatkan untuk “ruang katarsis”, dimana penghayatan tentang hidup dan kehidupan dapat dilakukan dengan khidmat akan berbalik arah menjadi “ruang eksistensi” yang riuh.

“Sudah bertahun-tahun BAI Banten berdiri dan berjalan tanpa kendala  tanpa publikasi. Jadi, apa pentingnya mempublikasikan BAI Banten?” kata saya agak ketus.

Kemudian, entah pada hari keberapa, sepertinya Omah Irna sudah kehabisan cara, hingga ia dengan tegas mengingatkan bahwa ini bukan mengenai siapapun yang mengurus BAI, tapi mengenai BAI itu sendiri. Lebih jauh, mengenai keriangan anak-anak.

“Wak… jangan egois!” katanya. “Ini bukan tentang dirimu. Kalau dirimu tidak mau publikasi, ya terserah. Tetapi jangan samakan dirimu dengan BAI. BAI harus dipublikasikan, bukan untuk eksistensi atau apapun yang kau khawatirkan itu. Tetapi agar orang lain termotivasi untuk turut mengurus dan mendidik anak-anak di lingkungan mereka. Agar mereka bangun dari tidur panjang dan lekas memeriksa sendiri apa yang ada dan tidak ada di sekitar lingkungan hidup mereka. Jadi mohon bersikap adil!”

Setelah mendapat teguran keras itu, akhirnya saya membuka grup ini dan fanspage Rumah Baca Bintang Al-Ikhlas Banten. Apa yang diharapkan Omah Irna terjadi, tidak sedikit orang terdorong untuk mendirikan rumah baca secara independen tanpa harus bingung bagaimana menghadapi pemerintah. Tidak perlu sibuk mengajukan permohonan bantuan kepada pejabat pemerintaha level manapun. Meski demikian, meluruskan niat adalah pekerjaan seumur hidup. Harus terus dikawal oleh diri sendiri agar tidak bengkok dan belok.

Delapan tahun Rumah Baca Bintang Al-Ikhlas Banten, belum banyak yang kami lakukan, tapi kami tidak mau berhenti, masih terus berupaya melakukan apa yang kami nilai perlu untuk dilakukan. Karena kami tidak mau berbusa-busa bicara soal bangsa dan Negara, tapi diam berpangku tangan. Persoalan bangsa ini harus ditangani bersama, termasuk mendidik mental anak-anak dan pemuda melalui rumah baca. Karena bagi kami, rumah baca tidak saja sebagai ruang untuk membaca belaka, melainkan tempat menempak dan mendidik manusia.

Harus ada yang dilakukan dari jam ke jam, dari hari ke hari, dan dari tahun ke tahun,  seumur hidup.

#Catatansejarah_BAI_Banten

0 komentar:

Posting Komentar